JM Hot News - шаблон joomla Окна

Kunci utama keberlanjutan perkebunan kopi di Indonesia adalah ketersediaan varietas unggul di sentra perkebunan. Telah ada

upaya untuk membangun kebun sumber benih, hanya sayangnya tidak semua kebun yang ada sesuai dengan standar yang berlaku.

Hal tersebut dinyatakan oleh Direktur Perbenihan Perkebunan saat mengunjungi BPTP Sumut dan berdiskusi dengan Kepala BPTP Sumut, Dr. Khadijah EL Ramija, SPi, MP pada Kamis (15/05/21). Menurutnya standar pembangunan kebun induk tidak sama dengan kebun produksi. Hanya dalam pembangunan kebun sumber benih dengan pendanaan APBN atau APBD seolah-olah disamakan. Hal ini sudah tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian No 88 Tahun 2017 yaitu tahun pertama merupakan tahap persiapan lahan, tahun kedua penyiapan bibit pada awal tahun dan tahun berikutnya pemeliharaan.

Sementara Bapak Dr. Ir. Sholeh Muchtar, MP selaku Direktur Perbenihan Perkebunan menilai adanya yang keliru dalam membangun kebun induk kopi. "Persiapan lahan seharusnya tidak dilakukan bersamaan dengan tanamnya untuk menghindari tingkat kegagalan yang tinggi".

Selain itu beliau menambahkan bahwa benih untuk kebun induk idealnya berasal dari kebun milik pemulia yang harganya tidak dapat disamakan dengan benih sebar. Sementara itu pemeliharaan untuk kebun induk harus ekstra sehingga membutuhkan pendanaan yang lebih besar dari kebun produksi.

Kepala BPTP Sumut menjelaskan bahwa BPTP Sumut telah membudidayakan Kopi Sigarar Utang di KP Gurgur. Beliau menginginkan agar KP Gurgur memiliki Kebun Induk Kopi sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No 88 Tahun 2017.

Setelah berdiskusi tentang kebun induk kopi, Bapak Direktur Perbenihan Perkebunan didampingi Ibu Kepala Balai dan Bapak Sub Koordinator KSPP melihat Tagrinov dan UPBS Ayam KUB.