JM Hot News - шаблон joomla Окна

Tingkat kesuburan tanah sangat dipengaruhi oleh kandungan hara yang tersedia di dalam tanah. KCl merupakan pupuk yang cukup sulit didapatkan petani, ditambah lagi harga pupuk tidak terjangkau. Untuk mengatasi kurangnya pupuk KCl, perlu dicari alternatif lain tanpa mengurangi fungsi yang sama dengan hara kalium. Jerami merupakan sampah organik yang tanpa disadari petani mampu mensuplai kembali unsur hara jika dikembalikan ke tanah. Setiap 5 ton jerami mengandung K setara dengan 50 kg KCl.

Oleh karena itu salah satu cara mencegah petani untuk tidak lagi melakukan pembakaran terhadap jerami adalah melapukkan jerami dengan cara sederhana dan gampang di tanah sawah. Pengembalian jerami secara cepat ke tanah sawah dapat dilakukan dengan pembusukan pada waktu pengolahan tanah. Pada saat pengolahan tanah pertama, jerami bersamaan dengan tanah diolah dengan menggunakan cangkul atau traktor. Tanah diratakan pada saat pengolahan tanah kedua sebelum siap tanam. Pada saat pengolahan tanah, jerami padi disebarkan ke tanah sawah. Kemudian tanah sawah diairi. Saluran pembuangan air ditutup rapat agar air tidak keluar. Larutan MOD 71 disiram secara merata pada tanah sawah yang telah digenangi air. Kondisi ini dibiarkan selama dua minggu sebelum menanam padi. Kotoran ternak ditambahkan untuk mempercepat dekomposisi.

Sebelum diaplikasikan, larutan MOD 71 disiramkan pada tanah yang sudah diolah serta siap tanam, dua minggu kemudian padi ditanami. Konsentrasi larutan bioaktivator ini adalah 200 liter per ha dengan kata lain untuk 50 liter air dicampurkan 1 liter MOD 71 dan 1 kg gula. Dalam luasan 1 ha membutuhkan 4 liter bioaktivator tersebut. Keunggulan MOD 71 adalah mengandung berbagai mikroorganisme yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik. Hasil pengkajian yang dilakukan BPTP Sumatera Utara di Desa Dame Kecamatan Dolok Masihul, perlakuan MOD 71 dalam menghancurkan jerami sebagai bahan organik dapat menghasilkan produksi padi 7 ton/ha untuk GKG tanpa menggunakan pupuk KCl. Oleh karena itu usahatani padi dengan mengembalikan jerami ke tanah sawah dengan menggunakan MOD 71 lebih efektif karena langsung membusukkan jerami tanpa melakukan perajangan. Kebutuhan hara K akan terpenuhi apabila semua jerami dikembalikan ke tanah sawah dimana petani melakukan panen. Dari pengkajian yang dilakukan di Kabupaten Serdang Bedagai, bioaktivator ini member hasil gabah yang lebih tinggi jika dibandingkan beberapa jenis bioaktivator yang digunakan.

Pengkajian adaptasi beberapa Varietas Unggul Baru (VUB) kedelai spesifik lokasi di Sumatera Utara dilakukan di Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat. Hasil pengkajian menunjukan bahwa dengan adanya kegiatan uji adaptasi varietas kedelai di lahan kering, dapat memberi beberapa alternatif varietas unggul kedelai yang sesuai untuk lahan kering di Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat dan daerah yang mempunyai iklim yang sama dengan daerah Hinai.

Varietas Anjasmoro, Sinabung, Ijen, Burangrang dan Kaba yang ditanam pada Lahan Kering pada MK II 2007 di Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat dengan kondisi curah hujan tinggi dan terus menerus bahkan sempat terendam air mampu beradaptasi dan menghasilkan berturut-turut 1,56 t/ha;1,67 t/ha; 1,56 t/ha; 1,23 t/ha dan 1,47 t/ha. Varietas Panderman dan lokal petani pada kondisi curah hujan yang tinggi tersebut hanya mampu menghasilkan berurut-turut 0,77 t/ha dan 0.27 t/ha. Keunggulan (karakteristik), mutu benih dan ketahanan terhadap serangan hama penyakit pada tanaman kedelai sangat berpengaruh terhadap daya adaptasi dan produktifitasnya (hayani).

Dua tahun sudah berlalu ketika peristiwa tsunami melanda Kabupaten Nias Selatan (Nisel). Banyak lahan sawah di Kecamatan Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan yang terkena tsunami, terendam air garam yang mengakibatkan tanah menjadi salin dan mengganggu pertumbuhan dan menyebabkan kematian tanaman padi. Pada tahun 2006, BPTP Sumatera Utara bekerjasama dengan ACIAR yang didukung Dinas Pertanian Nisel melakukan kegiatan pemeriksaaan salinitas tanah sawah mengunakan alat EM 38 di daerah bekas tsunami di desa Botohilitano dan Nanowa, di mana juga terdapat lokasi uji penanam padi sawah. Hasil pemeriksaan tanahdi kedua lokasi menunjukkan salinitas tanah yang rendah.
 
Curah bujan yang tinggi di daerah Nias Selatan (ratarata >2500 mm per tahun) telah menyebabkan pencucian garam ke bawahpermukaan tanah. Hasil panenan uji penanaman yang diperoleh hasil ubinan (GKG tonnes/ha) adalah : Ciherang 6.7, Sunggal 6.1, Kapuas 5.9, Cilosari 5.8 and Banyuasin 5.2 dan dapat dikatakan cukup baik produksinya.

Dalam rangka mengantisipasi meluasnya serangan hama wereng coklat di Sumatera Utara, BPTP Sumatera Utara mulai mensosialisasikan penggunaan Yellow trap (perangkap kuning) untuk pengendalian massal dan juga untuk memantaupopulasi wereng coklat tersebut.

Sosialisasi tersebut dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2011 bertempat di KP. Pasar Miring, Deli Serdang. Melalui acara ini diharapkan penggunaan Yellow trap dapat cepat tersebar keseluruh penjuru Sumatera Utara. Acara ini diikuti oleh 26 Kabid Produksi dari Dinas Pertanian kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Pada kesempatan tersebut, Ir.Akmal, MSi, peneliti BPTP Sumut, menjelaskan bahwa Yellow trap ini selain berfungsi untuk mengendalikan hama wereng dan penggerek batang padi, juga dapat digunakan untuk melakukan monitoring populasi hama sehingga dapat ditentukan waktu tanam yang tepat, khususnya pada daerah-daerah yang endemis serangan wereng coklat serta sebagai petunjuk waktu pelaksanaan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia.

Yellow trap adalah perangkap hama berbentuk rumah kecil (gubuk) berwarna kuning, terbuat dari seng dan dilengkapi dengan lampu, corong tempat masuk hama serta plastik tempat menampung hama yang terperangkap. Lampu perangkap dipasang pada ketinggian 150—250 cm

dari permukaan tanah. Hasil tangkapan dengan lampu 100 watt dapat mencapai 400.000 ekor/malam. Apabila pada areal persawahan tidak tersedia listrik maka lampu 100 watt dapat digantikan dengan lampu kapal/petromak.