JM Hot News - шаблон joomla Окна

Jangan buang kulit jeruk purut. Kulit buah Citrus hystrix itu mampu mengusir nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, penyebab demam berdarah. Itu hasil riset Roy Nusa Rahagus Edo Santya, peneliti di Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat, dan Joni Hendri, peneliti Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Ciamis, Jawa Barat. Ekstrak kulit jeruk purut mampu memberikan perlindungan selama 6 jam pada pengujian yang dilakukan pada kurungan berisi masing-masing 25 nyamuk. Proteksi rata-rata ekstrak yang diperoleh dari hasil pemerasan hidrolik itu sebesar 34,82% terhadap A. aegypti dan 41,44% terhadap A. albopictus. Meski tidak sebagus bahan kimia, kulit jeruk purut bisa menjadi alternatif penolak nyamuk.

 

Sumber : https://www.trubus-online.co.id/


 

Rencana Aksi Pengembangan Kebun Percobaan Gedung Johor telah diutarakan Kepala BPTP Sumatera Utara pada saat acara “Silaturahmi BPTP Sumut tahun 2014” pada Jumat (10/1) minggu lalu. Pengembangan KP Gedung Johor ini direncanakan sebagai show window teknologi Badan Litbang Pertanian di Sumatera Utara khususnya sebagai tempat teknowisata komoditi hortikultura dan peternakan.

Tujuan teknowisata peternakan di KP. Gedung Johor adalah sebagai demplot teknologi (ayam KUB dan Kambing Boerka, wisata ilmiah peternakan bagi pelajar, mahasiswa, praktisi, dan lainnya, serta menyediakan DOC bagi KRPL di 33 kab/kota Sumatera Utara.

Ayam KUB yang dikembangkan sebanyak 200 ekor (betina dan jantan) dengan sistem pemeliharaan sesuai Balitnak Ciawi.

Sumber pakan ternak yang berada di KP. Gedung Johor berupa rumput dan legum bagi ternak kambing. Adapun rumput yang ditanam ada 2 jenis yakni : rumput Ruzi (Brachiaria ruziziensis) dan rumput gajah mini (Pennisetum purpureum Cv. Mott). Sedangkan legum yang ditanam adalah Stilo (Stylosanthes guianensis) dan Indigofera spp.

Kambing Boerka yang akan dipelihara sebanyak 5 ekor (4 betina dan 1 jantan) yang direncanakan akan masuk pada bulan Juni mendatang.

 

 

 


 

Gambir (Unicaria gambir Roxb) termasuk salah satu jenis tanaman famili Rubiaceae (kopi-kopian). Bentuk keseluruhan tanaman ini seperti pohon bougenvil, yaitu merambat dan berkayu.  Gambir sebagai komoditas perkebunan rakyat yang pasar utamanya untuk ekspor. Ekspor gambir Indonesia tahun 2009 mencapai 18.298 ton dengan nilai US $ 38,04 juta (BPS, 2010). Indonesia menguasai 80% pangsa gambir di dunia. India merupakan tujuan ekspor utama, dan negara lainnya. Pemanfaatan dan kegunaan ekstrak getah gambir beranekaragam, mulai dari ibu-ibu yang senang makan sirih hingga bahan baku industri seperti industri farmasi, penyamak kulit, zat pewarna tekstil, ramuan cat, pestisida nabati, dan tinta untuk pemilu/ pilkada. Selain itu, sudah dikembangkan juga produk makanan dan minuman ringan  seperti teh celup, juice, permen dan opak gambir.  Masyarakat pedesaan memanfaatkan getah gambir sebagai obat diare. Kandungan utama gambir adalah katechin dan katechu.  Kadar katechin dalam gambir merupakan syarat mutu ekspor. Kadar katechin dipengaruhi varietas dan lokasi tumbuh. Varietas gambir unggul yang sudah dilepas adalah Udang, Cubadak dan Riau dari Sumbar, sedangkan varietas lokal Pakpak Bharat belum dilepas. Ekstrak gambir termasuk golongan falvanoid yang bersifat sebagai antioksidan. Sifat antioksin diyakini dapat melindungi timbulnya penyakit jantung karena dapat menurunkan lipidperoksidase serum. Hasil penelitian Ani (2010) menunjukkan bahwa ekstrak gambir, aman dan dapat menurunkan kadar kolesterol darah setara dengan simvastatin. Upaya  isolasi  katechin yang optimum untuk mendapatkan bahan baku obat dari ekstrak gambir masih sedang diteliti.

Salah satu faktor penyebab produktivitas gambir di Kabupaten Pakpak Bharat masih rendah andalah benih. Kebiasaan petani di daerah ini menggunakan benih dari stek pucuk atau batang tanaman dan langsung ditanam pada lahan tanpa olah tanah. Daya tumbuh benih tersebut sangat rendah (< 20%), sehingga jumlah populasi tanaman per hektar tidak optimal. Maka upaya yang dapat dilakukan adalah melalui benih berasal dari biji yang disemaikan terlebih dahulu. Untuk  mendapatkan  biji  dari  varietas  lokal  punya  masalah  tersendiri, yaitu Pohon membutuhkan waktu lama (> 5 tahun) menghasilkan biji, apabila pohon dipanen daunnya tidak akan menghasilkan bunga. Berbeda dengan varietas Udang, Cubadak dan Riau cepat mengha-silkan bunga (1,5 tahun). Untuk semai biji mem-butuhkan perlakuan khusus, agar biji tumbuh optimal. Biji gambir tidak dapat disimpan lama, media semai berupa bedengan dengan lapisan atas dilakukan pelumpuran, agar biji lengket oleh karena biji gambir sangat halus. Setelah benih disemai dibuatkan naungan dan dinding disisi naungan terbuat dari plastik tranparan. Biji dalam suasana gelap  tidak  mau   tumbuh  dengan  baik.  Setelahtumbuh dapat dipindah ke polibag. Benih yang sudah tumbuh dengan tinggi ± 20 cm sudah dapat ditanam pada lahan yang sudah disiapkan.


 

Produksi pisang di Sumatera Utara (Sumut) tahun 2005 (angka sementara) adalah sebesar 134.276 ton dengan luas areal 3.047 ha. Varietas yang banyak dikembangkan di Sumut adalah pisang Barangan. Pisang barangan merupakan salah satu buah spesifik Sumatera Utara. Buahnya memiliki keunggulan dibandingkan dengan kultivar pisang lainnya. Keunggulan tersebut antara lain: rasa daging buahnya lebih manis, warna kulit kuning, warna daging buah kuning kemerah-merahan, daging buah kering dan beraroma baik. Buah ini cocok dikonsumsi sebagai buah meja. Permintaan buah pisang barangan akhir-akhir ini terus meningkat, terutama di kota-kota besar di Sumatera Utara, Batam dan Jakarta, sehingga beberapa petani telah mulai membudidayakan secara komersial.

Secara umum penanganan segar pisang barangan setelah panen antara lain: panen dan cara panen, pengangkutan dari kebun ke gudang pengumpulan, penyimpanan sementara, penyisiran, sortasi dan grading, pengemasan dan penyimpanan. Pada setiap tahapan pascapanen tersebut diusahakan buah harus bebas dari kerusakan. Kerusakan (seperti adanya luka, goresan, lecet/memar) dapat mempercepat penurunan kualitas buah. Kualitas buah yang rendah tidak akan memberikan nilai tambah bagi produsen, buah menjadi afkir, nilai jual rendah dan bahkan dapat menjadi tersia-siakan di pasaran.

Penyisiran buah dari tandan sering menjadi permasalahan bagi petani maupun pedagang pisang. Pada waktu sortasi dan g rading masih didapati buah dalam sisir yang luka karena terpotong atau tergores pisau sewaktu menyisir, walaupun dengan menggunakan pisau tajam dan pekerja yang terampil. Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, peneliti pascapanen BPTP Sumut telah menciptakan/ memodifikasi teknologi penyisiran tandan pisang barangan. Pada kegiatan penyisiran buah dari tandan pisang, buah dalam sisir terhindar dari luka/goresan, dan alat penyisir tersebut sangat sederhana cara penggunaannya.

Informasi teknologi penyisiran tandan pisang ini dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi petugas lapang (PPL), petani, dan pedagang maupun usaha kecil menengah (UKM). Dalam penanganan pascapanen (penanganan segar) pisang, teknologi ini dapat membantu penyediaan pisang dalam bentuk sisir di kebun maupun di gudang pengemasan.

ALAT PENYISIR
Dalam 1 (satu) set alat penyisir tandan pisang terdiri dari 3 komponen alat, yaitu :

(1). Dua buah pisau pemotong ukuran besar dan kecil dilengkapi pegangan mempermudah menekan pisau pada bagian pangkal sisir yang melekat ke tandan pisang. Bagian ujung pisau berbentuk cekung disesuaikan dengan bentuk cekungan pangkal sisir pisang.

(2). Satu pisau penyerut pangkal sisir yang telah lepas dari tandan pisang. Pisau berbentuk cekung seperti sendok yang kedua sisinya tajam, disebut pisau sendok .

CARA PENYISIRAN TANDAN PISANG

Penggunaan alat penyisir pisang modifikasi BPTP Sumut tidak memerlukan orang terampil dalam melakukan penyisiran pisang. Alat yang tersedia di desain sedemikian rupa sehingga bagi siapa saja mudah menggunakannya. Cara penggunaan alat penyisir pisang sebagai berikut :

(1). Tandan pisang ditempatkan dalam posisi berdiri dengan pangkal tandan sebelah atas.

(2). Pangkal tandan dipegang dengan tangan kiri, dan pisau cekung diarahkan/ ditempatkan pada pangkal sisir yang masih melekat pada tandan. Pisau penyisir berbentuk cekung disesuaikan dengan ukuran lingkaran pangkal sisir.

(3). Sisir buah yang telah lepas dari tandan, pangkalnya sisirnya diserut dengan pisau sendok untuk membuang sisa-sisa serat tandan yang masih melekat pada pangkal sisir pisang tersebut.

MANFAAT ALAT PENYISIR
(1). Mudah penggunaannya tidak memerlukan orang terampil yang selama ini khusus bekerja melakukan penyisiran pisang

(2). Buah dalam sisir tidak tergores pisau

(3). Penyisiran lebih cepat dari cara tradisional