JM Hot News - шаблон joomla Окна

Pisang barangan merupakan buah spesifik Sumatera Utara. Buah ini memiliki keunggulan daripada buah pisang yang lain, dimana memiliki daging buah yang manis dan kering, kulit buah kekuningan, dan memiliki aroma yang khas. Permintaan buah pisang barangan terus meningkat, terutama di kota-kota besar di Sumatera Utara, Jawa, dan seluruh nusantara sehingga Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara  (BPTP Sumut) mempunyai tanggung jawab untuk ikut mengembangkan inovasi teknologi kultur jaringan pisang barangan ini. Kegiatan kultur jaringan di BPTP Sumut ini sudah berjalan 3 tahun sejak tahun 2012 dan sudah banyak menghasilkan perbanyakan pisang barangan melalui kultur jaringan.                                     

Perbanyakan pisang barangan melalui kultur jaringan dapat menghasilkan bibit dengan jumlah yang banyak dan seragam dalam waktu relatif singkat dan bibit kultur jaringan mudah didistribusikan. Proses perbanyakan bibit pisang barangan melalui teknologi kultur jaringan dan tahapannya sebagai berikut :


 

Edible coating dibuat dari gel (“daging”) lidah buaya dengan penambahan carboxymethylcellulose (CMC) 1%  dan gliserol 0,5 % dengan diagram alir seperti pada Gambar 1.  Dimana lidah buaya setelah disortasi kemudian dicuci hingga bersih. Dilakukan pengambilan empulurnya dengan pengupasan kulitnya. Bagian empulur dari daun lidah buaya kemudian dihancurkan, disaring sehingga menjadi jus lidah buaya. Setelah itu dilakukan pemanasan selama 15 menit. Selanjutnya didinginkan sampai suhu 28oC dan ditambahkan CMC serta gliserol, gel pun siap untuk digunakan sebagai edible coating.

 Untuk proses penggunaannya sebagai edible coating adalah sebagai berikut :

  1. Buah jeruk siam madu dipilih dengan tingkat ketuaan warna kulit buah hijau kekuningan.  Kemudian dilakukan sortasi untuk mendapatkan buah yang seragam baik bentuk maupun warna. Di samping itu perlu dipisahkan buah mulus, pecah dan luka.
  2. Aplikasi edible coating pada buah jeruk siam madu menggunakan metode pencelupan Buah jeruk siam madu dicelupkan ke dalam gel lidah buaya dengan perlakuan lama pencelupan 5 menit.
  3. Buah jeruk siam yang telah diberi perlakuan disimpan pada suhu  kulkas 4,0-5,0 ° C menggunakan wadah plastik (trays). Buah jeruk siam madu yang telah diberi edible coating dengan suhu simpan 4,0-5,0 oC dan RH 85,0 -95,0 % masih berpenampakan mutu mendekati penampakan buah segar 1 hari setelah panen. Teknologi edible coating pada buah jeruk siam madu memiliki umur simpan yang lebih lama jika disimpan pada suhu 15-20°C mencapai 7 minggu.


 

Tanaman gambir (Uricaria gambir Roxb) merupakan tanaman perdu, yang termasuk famili Rubiaceae (kopi-kopian). Tanaman ini mempunyai banyak khasiat. Secara tradisional masyarakat Pakpak Bharat mengkonsumsi gambir sebagai ramuan makan sirih, obat sakit maag, obat sakit diare juga sebagai penambah stamina. Melalui industri farmasi  tanaman ini telah banyak diolah menjadi bahan obat-obatan, bahan kosmetik, penyamak kulit, zat pewarna industri tekstil, ramuan cat, pestisida nabati bahkan di Payakumbuh - Sumatera Barat dijadikan sebagai bahan untuk tinta pilkada . Di Pakpak Bharat juga mulai berkembang industri kecil menengah (IKM) pengolahan teh gambir. Berikut ini adalah tahapan pengolahan teh celup dari daun gambir yang diproduksi oleh IKM Maju Bersama, Desa Kutatinggi, Kec.Salak, Pakpak Bharat.

Tahapan proses pengolahan teh gambir :

  1. Pemanenan
  2. Pencucian
  3. Pengeringan
  4. Perajangan dan penggilingan
  5. Pengepakan
  6. Pemasaran
  7. Pemanenan

Tanaman gambir dengan pertumbuhan yang baik, pada umur 2 (dua) tahun sudah dapat dipetik daunnya. Daun yang paling baik untuk bahan teh adalah daun yang berwarna hijau tua, walaupun terkadang bercampur dengan daun muda, perbandingan antara daun tua dan muda diusahakan maksimal 2 : 1.

  1.  Pencucian

Pada tahap ini, daun gambir dimasukkan ke dalam bak pencucian berisi air bersih, diaduk dan di bolak-balik untuk membersihkan daun dari ranting, kotoran ataupun hama yang ada di kebun. Pencucian sebaiknya dilakukan minimal 2 (dua) kali agar lebih bersih.

      2.  Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan cara menjemur di bawah sinar matahari atau membangun sebuah sungkup plastik yang tertutup. Pengeringan dalam sungkup, dapat menjamin waktu pengeringan  lebih cepat yaitu sekitar 3-4 hari dibandingkan pengeringan sinar matahari yang tidak menentu karena tergantung cuaca. Disamping itu, dengan adanya sungkup ini, petani juga tidak harus menjaga daun-daun teh dari hujan, serta hewan seperti anjing, kucing, ayam yang berkeliaran disekitarnya yang tentu dapat mengurangi higenitas dari bahan teh . Pengeringan juga lebih cepat karena suhu ruangan sungkup lebih panas dibanding suhu di luar ruangan. Setelah kering, kadar air daun teh berkisar  10 - 12%.

       3. Perajangan , Penggilingan dan Peracikan

Perajangan memakai mesin perajang. Kapasitas mesin perajang yang dimiliki IKM Maju Bersama dapat merajang 100 kg daun teh per hari. Selanjutnya dilakukan penggilingan (pembuatan tepung) dengan mesin penggiling. Kapasitas penggilingan mesin ini dapat menghaluskan 50 kg daun teh per hari. Pada tahap penggilingan ini, juga dapat ditambahkan kumis kuncing , pandan kapur, serai wangi, kulit manis atau bunga kantil untuk menambah khasiat, cita rasa serta aroma teh celup. Perbandingannya adalah untuk 10 Kg  gambir, ditambahkan 1 kg daun pandan atau 1 kg kumis kucing).

       4. Pengepakan

Setelah halus, bubuk teh daun gambir dimasukkan ke dalam kantung (sachet) teh sebanyak 2 gr per sachet. Dalam 1 kotak terdapat 25 sachet. Selanjutnya di pres dan siap untuk dipasarkan.

       5. Pemasaran

Produk teh gambir telah dipasarkan ke Sidikalang, Kabanjahe, Medan, Jakarta dan Kalimantan. Produksi per bulan adalah sekitar 3000 bungkus per bulan.

Sumber : Bapak Benar Bancin, Ketua IKM Maju Bersama, Desa Kutatinggi, Kec.Salak, Kab.Pakpak Bharat


 

Kulit buah kakao, memiliki peran yang cukup penting dan

berpotensi dalam penyediaan pakan ternak ruminansia

khususnya kambing terutama pada musim kemarau.

Pemanfaatan kulit buah kakao sebagai pakan ternak dapat

diberikan dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung

setelah diolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit

buah kakao segar yang dikeringkan dengan sinar matahari

kemudian digiling selanjutnya dapat digunakan sebagai

bahan pakan ternak.

PEMANFAATAN LIMBAH BUAH KAKAO

- Kulit buah kakao adalah limbah agroindustri yang

  dihasilkan tanaman kakao (Theobroma cacao L.). Buah

  kakao terdiri dari 74 % kulit buah, 2 % plasenta dan 24

  % biji.

- Hasil analisa proksimat kulit buah kakao mengandung 22

   % protein dan 3-9 % lemak. Pakar lain menyatakan kulit

   buah kakao kandungan gizinya terdiri dari bahan kering

   (BK) 88 % protein kasar (PK) 8 %, serat kasar (SK) 40,1

   % dan TDN 50,8% dan penggunaan nya oleh ternak

    ruminansia 30 - 40 %.

- Dari hasil penelitian yang dilakukan pada ternak domba,

   bahwa penggunaan kulit buah kakao dapat digunakan

   sebagai substitusi suplemen sebanyak 15 % atau 5 %

    dari ransum.

- Sebelum digunakan limbah kulit buah kakao perlu

   difermentasikan untuk menurunkan kadar lignin yang

   sulit dicerna oleh hewan sekaligus meningkatkan kadar

   protein .

- Kulit buah kakao juga merupakan sumber mineral yang

    baik dengan kandungan abu yang relatif tinggi (10-16%).

- Pemberian kulit buah kakao yang telah diproses pada

    ternak sapi dapat meningkatkan berat badan sapi sebesar

    0,9 kg/ hari.

Tabel 1. Komposisi nutrisi kulit buah kako sebagai bahan pakan

Nutrien

Kandungan

Bahan Kering, %

87-90

Protein Kasar, %

6 – 8

Serat Kasar, %

31,5

Lemak Kasar, %

1-2

Abu, %

10-16

BETN, %

25-35

Kalsium, %

0,67

Phosphor, %

0,10

Energi Kasar, Mkal/kg

3,5- 4,5

PENGOLAHAN KULIT BUAH KAKAO MENJADI BAHAN BAKU PAKAN

-  Sebelum kulit buah kakao akan dipergunakan, pastikan

   tanaman kakao terutama kulit buahnya tidak

   terkontaminasi dengan pestisida, untuk itu dapat

   dilakukan dengan pencucian atau direndam dalam air

   untuk membebaskan bahan racun yang masih tersisa di

   kulit buah kakao.

-  Kulit buah kakao yang basah akan cepat mengalami

   pelapukan, sehingga tidak dapat digunakan dalam

   bentuk segar. Oleh karena itu, diperlukan pengeringan

-  Pengeringan juga dapat mengurangi kadar theobromin

   pada kulit yang bersifat antinutrisi pada ternak. Kulit

   buah kakao yang telah dikeringkan dapat diolah

   menggunakan alat/mesin penggiling untuk

   menghasilkan tepung kulit buah kakao yang dapat

   disimpan dan digunakan setiap saat.