JM Hot News - шаблон joomla Окна

Ayam buras/kampung merupakan sumber gizi yang bermanfaat bagi kesehatan,pertumbuhan dan kecerdasan.  Ayam kampung adalah jenis ayam yang tidak begitu rentan terhadap penyakit.  Dari sudut pemeliharaan komoditas ayam buras tidak memerlukan managemen modern dan resiko usahanya relative rendah.

JENIS JENIS PENYAKIT

1. PENYAKIT MAREKS

Gejala :

  • Ada dua macam gejala yaitu : tipe klasik  dan tipe akut.
  • Pada tipe klasik hanya merusak susunan  syaraf tepi dan dapat disembuhkan.
  • Pada tipe akut ayam sakit bisa mati  secara tiba-tiba.
  • Tanda-tanda berupa:
  1.  Ayam tampak lesu dan menunjukkan  gejala kelainan syaraf.
  2. Pembentukan tumor pada berbagai alat tubuh seperti : hati, organ reproduksi, paru-paru, jantung dan ginjal.
  3. Terbentuk tumor pada folikel kantung  bulu.
  •  Disebabkan oleh harpes virus yang  mempunyai struktur DNA. Penularannya  dapat terjadi secara kontak langsung  atau tidak langsung. Kontak langsung  terjadi jika epitel terkena virus terhisap    atau termakan ayam yang sehat, kontak
  • Melakukan sanitasi secara baik, teratur dalam kotak pemanas/kandang.
  • Melakukan vaksinasi secara baik dan teratur.
  • Penggunaan vitamin dan air bersih

2. PENYAKIT GUMBORO

Gejala :

  • Menyerang sistem pembentukan  kekebalan pada ayam.
  • Serangan pada anak ayam yang berusia    1 s/d 6 minggu.
  • Tanda-tandanya berupa kehilangan kekebalan yang berasal dari induk berupa ayam lesu dan ngantuk, bulu mengerut,    dubur kotor berlendir berwarna keputih-putihan, tubuh ayam kering karena kehilangan cairan.
  • Melakukan sanitasi yang baik serta melakukan vaksinasi gumboro.

3. PENYAKIT BERAK DARAH

Gejala :

  • Penyakit disebabkan oleh protozoa  eimeria.

 

Kandang berfungsi sebagai rumah bagi ternak untuk melakukan segala aktivitas fisik maupun biologis. Kandang sapi selama pemeliharaan perlu  mendapat tempat yang nyaman. Hal ini berkaitan dengan kesehatan dan optimalisasi produksi. Untuk mencapai produksi yang optimal, kandang ternak harus memenuhi syarat. Syarat lokasi kandang ternak sapi peliharaan antara lain: (1). Memiliki jarak minimal 10 meter dari rumah pemukiman, (2). Dekat dengan sumber air dan pakan, (3). Dapat dijangkau transportasi dengan mudah, (5). Letak bangunan kandang lebih tinggi dari lingkungan di sekelilingnya, agar tidak tergenang air dan lebih mudah membersihkannya, (6). Sebaiknya posisi kandang menghadap ke Timur, (7). Lingkungannya sejuk dan kondusif, (8). Air limbah dari kandang dapat tersalurkan dengan baik ke pembuangan khusus.

 a.      Kandang Individu

Pada kandang individu, setiap sapi dipelihara dalam satu kandang tersendiri. Dibagian depan ditempatkan tempat pakan dan minum sedangkan dibagian belakang kandang dibuat saluran pembuangan kotoran. Ukuran kandang individu rata-rata 1,5 m x 2,5 m. Kandang idividu dapat dibuat 1 atau 2 baris dengan lorong di tengah. Pembuatan lantai kandang perlu diperhatikan, lantai dibuat dengan kemiringan 5-15O kearah saluran pembuangan kotoran. Hal ini penting agar kotoran dapat mengalir langsung kesaluran pembuangan. Bahan lantai dapat dibuat berupa tanah yang dipadatkan maupun kayu atau semen, asalkan tidak licin dan tidak terlalu kasar. Selokan (saluran) pembuangan kotoran ternak sapi dapat dibuat dengan lebar 20-30 cm dan kedalaman 10-20 cm.

b.      Kandang Kelompok/komunal

Kandang kelompok berukuran lebih besar dan dapat menampung sejumlah sapi sekaligus. Ukuran kandang kelompok disesuaikan dengan jumlah sapi yang dipelihara dalam kandang tersebut dikalikan dengan kebutuhan area tiap individu. Kandang kelompok dapat dibuat dengan atap tertutup sepenuhnya atau sebagian sebagai tempat umbaran. Pada kandang dengan atap terbuka, saluran kotoran ditiadakan. Sebagai ganti sebaiknya menyediakan serbuk gergaji untuk alas lantai kandang. Dengan cara ini kotoran sapi pada kandang dapat dilakukan secara berkala tiap 2-3 bulan sekali. Untuk area umbaran saluran pembuangan kotoran tetap dibuat dibagian belakang kandang.

 

Konstruksi Kandang

            Desain kandang ternak sapi dibuat berdasarkan umur dan pola pemeliharaan dan agroklimat setempat. Kandang didaerah dingin sebaiknya dibuat kandang sedikit tertutup, sebaliknya didaerah panas kandang dibuat lebih terbuka agar tidak terlalu pengap.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kontruksi kandang ternak sapi antara lain:

1. Kerangka kandang.

Material untuk kerangka kandang dapat dipilih dari bahan sederhana seperti bambu atau kayu, atau dapat pula dari bahan yang lebih mahal dan awet seperti besi atau beton. Kerangka kandang dapat dibuat dengan ketinggian 2,5-3,5 m dari permukaan lantai.

2. Dinding kandang.

Dinding kandang dapat dibuat dari bambu, kayu atau tembok. Idealnya tinggi dinding antara 0,5-1 m dari permukaan lantai. Diatas dinding perlu dibuat sekat atau pagar lebih tinggi dari bahu saat sapi berdiri tetapi tetap memudahlan pemberian pakan dan mengontrol ternak. Tujuannya adalah untuk menghindari sapi lepas dari kandang.

3. Atap kandang.

Konstruksi atap kandang diusahakan lebih tinggi agar sirkulasi udara lebih lancar. Ketinggian atap kandang untuk daerah dataran rendah adalah 3,5-4,5 m dan untuk daerah dataran tinggi ketinggian atap adalah 2,5-3,5 m. Bahan untuk atap dapat dibuat dari rumbia, genteng, asbes atau seng.


 

Untuk pembuatan mie kering ini, pembuatan tepung pisang varietas siberas adalah sebagai berikut :

  1.  Pisang siberas yang telah matang panen, dicuci untuk menghilangkan kotoran dan getah yang menempel pada kulit
  2.  diblanshing menggunakan air panas selama 3 menit, dikupas, diiris dan kemudian dikeringkan pada suhu 60 oC selama 18 jam lalu dilakukan penggilingan dan pengayakan 80 mesh sehingga dihasilkan tepung pisang (gambar 2).


 

Pembuatan tepung  ubi jalar putih

Jenis ubi jalar putih yang digunakan adalah varietas lokal  yang kulitnya berwarna ungu dan daging buahnya berwarna putih ditanam masyarakat untuk konsumsi maupun untuk dipasarkan. Proses pembuatan tepung ubi jalar putih :

  1. ketebalan irisan yang sama (kira-kira 1,0-1,5 mm) menggunakan mesin penyawut. Setiap irisan ubi jalar putih masing-masing ditimbang sesuai dengan kebutuhan untuk untuk perlakuan fermentasi dengan ragi tape dengan dosis starter ragi tape yang digunakan masing-masing 100 gram/100 liter air, diaduk hingga rata, kemudian wadah fermentasi ditutup plastik.
  2. Perendaman selama 24 jam, ditiriskan, dipress dengan alat pengepres hidraulik, dikeringkan pada oven pengering multiguna selama 8-10 jam dengan suhu 60-70oC, dan digiling/ dihaluskan dan diayak 80 mesh.  Tepung ubi jalar putih yang diperoleh dari proses fermentasi tersebut disimpan dalam wadah kedap udara menggunakan plastik tupper ware.
  3. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendemen dan warna tepung ubi jalar putih dari proses fermentasi menggunakan ragi tape, menghasilkan rendemen tertinggi (28,80%) dengan warna tepung cerah. Teknologi fermentasi dengan menggunakan ragi tape juga menghasilkan tepung ubi jalar putih dengan kandungan protein tertinggi (4,61%) dan hasil tersebut lebih tinggi dari kandungan protein tepung terigu (1,74 %).

Pembuatan mie basah

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan mie basah yaitu tepung komposit yang terdiri dari 60% tepung terigu dan 40 % tepung umbi-umbian. Serta bahan tambahan seperti 1 butir kuning telur, garam ¼ sendok teh makan (2,3 g),  air 100 ml. Total tepung komposit yang digunakan dari tepung ubi  jalar putih dan tepung terigu adalah 250 gram.

Adapun prosedur pembuatan adalah sebagai berikut:

 Adonan diaduk sampai kalis, kemudian digiling. Tali-tali mie yang dihasilkan dari proses penggilingan kemudian direbus 3 menit mengun

akan air secukupnya dan dicampur dengan 3-4 sendok teh minyak goreng. Hasil rebusan ditiriskan dan diaduk serta diolesi dengan minyak goreng supaya tali-tali mie tidak lengket, hasil ini disebut dengan mie basah. Diagram alir pembuatan mie basah, disajikan dalam Gambar 1.