JM Hot News - шаблон joomla Окна

Pemerintah terus mendorong berbagai upaya untuk mewujudkan swasembada pangan terutama  komoditas padi.  Penyediaan  dan  pemanfaatan  sumberdaya  lahan  baik  secara   intensifikasi,  diversifikasi  maupun  ekstensifikasi sangat diperlukan guna mendukung  program  tersebut.  Persaingan  Penggunaan lahan  semakin  tinggi, lahan  yang  ada saat ini terbatas, lahan suboptimal yang tersedia menjadi harapan walaupun memerlukan input tinggi dalam  pemanfaatannya  agar  dapat  berproduksi  secara  optimal.  Dalam rangka meningkatkan hasil produksi padi di lahan  pasang surut, Balitbangtan telah menghasilkan teknologi padi Rawa Pasang Surut Intensif, Super dan Aktual (RAISA).

 

 

 

Info Lebih Lengkap Silahkan Download Disini


 

Padi gogo memegang peranan penting dalam sistem pertanian rakyat Indonesia termasuk di daerah Sumut. Luas panen padi gogo di Sumut mencapai  40.594 ha  dengan produksi sebesar 140.523 ton setara produktivitas 3,46 ton/ha (Sumatera Dalam Angka, 2015). Penciutan lahan sawah subur akibat konversi  untuk kepentingan non pertanian, fenomena degradasi kesuburan lahan sawah,  produktivitas padi  cenderung menurun. Peluang pemanfaatan lahan kering di dataran tinggi maupun dataran rendah melalui pengembangan teknik budidaya spesifik lokasi padi gogo varietas unggul lokal maupun unggul nasional di Sumatera Utara sangat besar.

Padi gogo lokal spesifik dataran tinggi Sumatera Utara banyak ragamnya. Namun sebutan yang terkenal luas adalah Sigambiri. Ada dua jenis Sigambiri yaitu Sigambiri Merah dan Sigambiri Putih, dan yang membedakan adalah hanya warna berasnya saja yaitu merah dan putih. Sigambiri adalah jenis padi darat, berusia 5-6 bulan dan memiliki kandungan vitamin B12 dan antosinin cukup tinggi. Varietas Sigambiri ini telah dikenal dan dibudidayakan sejak dahulu kala oleh etnis batak. Padi Sigambiri tetap ditanam petani karena memiliki rasa yang enak dan tidak mudah diserang hama penyakit. Menurut para petani kelebihan dari beras ini adalah memberikan efek lebih lama tahan laparnyadibanding bila mengkonsumsi beras dari golongan padi unggul.

 

Info Lebih Lengkap Silahkan Download Disini


 

Padi merupakan sumber pangan utama masyarakat Indonesia, guna memenuhi kebutuhan pangan nasional Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian terus melakukan program peningkatan produksi tanaman padi. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan teknologi budidaya padi Jarwo super yang berpotensi hasil tinggi, teknologi tersebut menerapkan teknologi budidaya padi jajar legowo super yang merupakan teknologi budidaya terpadu padi di lahan sawah irigasi berbasis sistem tanam jajar legowo 2:1. Komponen  teknologi budidaya Jarwo Super antara lain : (1) Penyiapan lahan (2) Aplikasi Biodecomposer saat pengolahan lahan (3) Varietas unggul baru potensi hasil tinggi, (4) Aplikasi pupuk hayati saat seed treatment (5) Aplikasi Bioprotektor Pestisida Nabati (6) TanamJajar Legowo 2 :1 (7) Pasca panen dengan Combine Harvester 

 

 

 

 

Info Lebih Lengkap Silahkan Download Disini


 

Penggunaan pestisida kimia yang telah dilakukan oleh petani berpuluh-puluh tahun lamanya memberikan dampak yang sangat merugikan, seperti resistennya (kebal) nya beberapa jenis hama, meledaknya hama-hama baru, terjadinya penumpukan bahan kimia di dalam tanah sehingga mencemarkan lingkungan demikian juga residu yang terkandung dalam hasil panen dan terbunuhnya beberapa jenis musuh alami yang sebenarnya memberi manfaat  untuk mengendalikan hama atau penyakit tertentu pada tanaman.  

Seiring dengan kerusakan tersebut,  kesadaran konsumen akan kesehatan sudah semakin tinggi.  Permintaan produk-produk non pestisida makin  hari makin tinggi.   Oleh karena itu adalah tantangan bagi petani untuk menyediakan produk yang aman bagi kesehatan manusia.  Salah satunya adalah dengan meminimalkan bahkan kalau dapat tidak menggunakan bahan pestisida kimiawi.  

 

Info Lebih Lengkap Silahkan Download Disini