JM Hot News - шаблон joomla Окна

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terdiri dari beberapa etnis, yaitu etnis asli dan pendatang. Etnis asli Sumatera Utara adalah Batak dan Melayu. Etnis Batak umumnya mendiami kawasan dataran medium dan dataran tinggi, yang terdiri atas Batak Toba, Batak Karo, Pakpak, Batak Simalungun, dan Mandaling. Identitas Batak diketahui berdasarkan marga. Etnis Melayu umumnya mendiami daerah pesisir pantai dan tidak bermarga. Kedua etnis asli ini memanfaatkan tanaman endemik yang ada disekitarnya untuk masakan khas, atau untuk upacara adat yang kemudian membudaya dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang. Tanaman-tanaman tersebut masih lestari hingga saat ini karena dibutuhkan secara terus menerus.

Masakan khas Etnis Batak (Tapanuli) adalah Arsik, Tombur, Naniura, Gulai ikan Holat, dan sayuran khas batak adalah daun ubi tumbuk, dan sayur bangun-bangun, makanan ringan yaitu cimpa, dan minuman khas adalah tuak. Sementara itu, etnis Melayu terkenal dengan masakan bubur pedasnya.  Bahan-bahan yang digunakan selain menggunakan bahan dasar bumbu masakan Indonesia (cabe, bawang merah, kunyit, jahe dan sebagainya), yang ada di masing masing daerah, juga menggunakan bahan khas yang hanya ada di Sumatera Utara. Bahan khas tersebut antara lain andaliman, bawang batak, unte jungga, rimbang, bunga kencong, asam sihala atau cekala, bangun-bangun, daun singkut, balakka, raru, dan daun kentut-kentut.

Selengkapnya download disini


 

       Kajian Teknologi Pembuatan Mie Basah dari Tepung Ubi Jalar Putih di Sumatera Utara telah dilakukan pada Agustus 2013 s/d Februari 2014. Pengkajian ini bertujuan untuk  mendapatkan teknologi fermentasi yang menghasilkan rendemen tepung ubi jalar putih yang optimal dan berkualitas untuk dapat dimanfaatkan dalam pembuatan mie basah. Perlakuan fermentasi yang diterapkan yaitu 1) tanpa fermentasi; 2) fermentasi dengan Bimo-CF; 3) fermentasi dengan ragi tape; 4) fermentasi dengan ragi roti/fermipan; dan sebagai kontrol adalah tepung terigu.

        Sampel ubi jalar putih diambil langsung dari lapangan lokasi petani di desa Purba Dolok, Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun. Pembuatan tepung ubi jalar putih dan mie basah dilakukan di laboratorium Pascapanen BPTP Sumatera Utara. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendemen dan warna tepung ubi jalar putih dari proses fermentasi menggunakan ragi tape, menghasilkan rendemen tertinggi (28,80%) dengan warna tepung cerah. Teknologi fermentasi dengan menggunakan ragi tape juga menghasilkan tepung ubi jalar putih dengan kandungan protein tertinggi (4,61%) dan hasil tersebut lebih tinggi dari kandungan protein tepung terigu (1,74 %).

        Pembuatan mie basah dengan menggunakan tepung komposit ubi jalar putih dan terigu dengan perbandingan tepung ubi jalar putih 40 % dan  60 % tepung terigu menghasilkan lembaran adonan yang dapat membentuk tali-tali mie. Tali-tali mie dari perlakuan fermentasi tersebut direbus untuk menghasilkan mie basah. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa mie basah yang dihasilkan dari tepung ubi jalar putih dengan fermentasi atau tanpa fermentasi dikompositkan dengan terigu (40 % + 60%) memiliki nilai yang lebih rendah dan berbeda nyata dengan kontrol (terigu 100%).

Selengkapnya download disini


 

Tujuan dilakukan pemotongan paruh yaitu untuk mengurangi kanibalisme atau saling mematuk pada anak ayam yang bisa mengakibatkan luka dan kematian maka perlu dilakukan pemotongan paruh pada umur 7—10 hari dan pada ayam dewasa  potong paruh bertujuan untuk menghindari ayam saling mematuk ketika perkawinan. Akan tetapi, ayam jantan masih bisa memegang bagian kepala betina ketika perkawinan berlangsung. 

Cara pemotongan paruh adalah dengan menggunakan alat/mesin pemotong paruh yang disebut dengan Debeaker,paruh atas dipotong 1/3 bagian, sedangkan paruh bawah cukup ditekan pada pisau pemotong yang panas.

 Selengkapnya download disini


 

Erupsi Gunung berapi mengakibatkan kondisi lahan di kawasan berdampak mengalami perubahan, baik sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah.  Hasil analisa abu Gunung Sinabung pada lahan tertutupi debu setebal 10 cm  memperlihatkan sifat-sifat kimia antara lain kandungan N rendah, P dan Mg total tinggi, unsur S dan Fe sangat tinggi serta pH rendah.  Sifat-sifat kimia tanah setelah erupsi Gunung Sinabung terjadi perubahan seperti pH menurun menurun oleh karena material volkanik mengandung unsur S (belerang) yang belum terhidrolisis dan tercuci. Kandungan C-organik tanah menurun karena bahan organik di atas permukaan tanah dan pada kedalaman tertentu hilang karena terbakar abu panas. Kandungan P, Mg, S dan Fe termasuk sangat tinggi karena bahan dasar/batuan induk yang dieksploitasi mengandung P, Mg, S dan Fe.

Aplikasi teknologi pemulihan produktivitas lahan pasca erupsi dapat dilakukan menggunakan teknik konservasi mekanik (pembuatan dan perbaikan teras gulud) dan teknik konservasi vegetatif yaitu penanaman rumput pada gulud dan teras, penanaman tanaman buah-buahan, legum pohon, tanaman pangan dan sayuran serta pembenah tanah (soil amendment) dengan pupuk kandang (Sulaiman dkk, 2012; Murdiati dan Wahyunto, 2012)  

Menurut Saptana dkk (2005) perdagangan sayuran asal Sumatera hingga kini masih memiliki prospek pasar yang cerah untuk tujuan pasar ekspor utama Singapura, baik ditinjau dari tingkat konsumsi masyarakat maupun trend impor yang juga terus meningkat dari waktu ke waktu. Dengan tingkat konsumsi sayuran sebesar 83,4 kg/kapita/tahun dan jumlah penduduk 4,19 juta jiwa, maka total konsumsi untuk sayur-mayur masyarakat Singapura mencapai 349,4 ribu ton. Dengan tingginya wisatawan yang datang ke Singapura yang diperkirakan mencapai 6 juta per tahun, maka permintaan pasar diperkirakan menjadi lebih tinggi dari dua kali total konsumsi domestiknya.

Info Selengkapnya disini