JM Hot News - шаблон joomla Окна

Info Aktual

loading...

Inovasi Teknologi

loading...

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan perubahan yang signifikan dalam beberapa sektor di tanah air, tidak terkecuali sektor pangan

dan pertanian.Wabah Covid-19 yang tak kunjung usai membawa dampak pada perekonomian Indonesia yang ditunjukkan dengan fluktuasi harga bahan pokok yang terjadi di berbagai daerah, terutama daerah yang menerapkan kebijakan berupa physical distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dampak pandemi pada sektor pertanian meliputi berbagai aspek,mulai dari produksi, distribusi, serta konsumsi produk pangan. Bawang Merah merupakan salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga. Ketika harga bawang konsumsi mahal maka benih pun akan ikut dijual mahal. Sebaliknya, pada saat bawang konsumsi tidak mahal maka biasanya benih umbi pun berlebih. Hal ini yang mengakibatkan harga bawang menjadi sangat fluktuatif.

Oleh karena itu petani bawang banyak yang beralih menanam bawang dari benih ke biji TSS (True Seed Shallots). Hal tersebut juga dilakukan oleh kelompok tani Hortikultura Mandiri di Desa Pekan Dolok Masihul, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai.

Varietas yang dipakai petani adalah jenis Trisula yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran dan Sanren yang diproduksi oleh PT. East West. Saat ini umur seedling sudah 40 HST dan siap untuk dipindah-tanam.

Berdasarkan informasi dari Pak Rivani (PT. East West), tahapan persemaian dan transplanting merupakan tahap yang dirasa paling sulit dan beresiko bagi petani. Tahap setelah transplanting merupakan tahap yang rentan dan memerlukan perawatan ekstra, hal ini dikarenakan pada seedling TSS cadangan makanan lebih sedikit dibanding benih dari umbi, sehingga perlu dipupuk.

Saat kunjungan lapang terlihat daya berkecambah TSS di lokasi tersebut sekitar 90-100% dan memiliki performa yang baik. Menurut Bapak Suwandi Kepala Poktan Hortikultura Mandiri, menanam bawang merah dengan benih biji dapat membuat biaya usaha tani menjadi lebih murah, sebab hanya membutuhkan 4 kg benih untuk pertanaman di lahan seluas 1 hektar. Ibu Dr. Khadijah El Ramija selaku Kepala BPTP Sumut menjelaskan bahwa penggunaan biji botani (True Shallot Seed/TSS) salah satu alternatif cara perbanyakan benih secara cepat dan potensial untuk dikembangkan di Sumatera Utara. Biji botani TTS memiliki keunggulan dibandingkan benih asal umbi, seperti produksi lebih tinggi, tanaman sehat dan bebas dari penyakit, kebutuhan lebih sedikit, biaya transportasi lebih murah, tidak memerlukan gudang penyimpanan yang luas, daya simpan lebih lama dari pada umbi.

Lokasi pusat pembenihan TSS di Sumatera Utara berada di KP. Gurgur, Toba Samosir. Budidaya pembenihan bawang merah/TSS telah diujicoba di beberapa daerah, tetapi budidaya yang ada di KP Gurgur merupakan yang terbaik di Indonesia. Iklim dan tanah Gurgur sangat cocok untuk pengembangan pembenihan bawang merah", ujarnya. Beliau menegaskan siap mendampingi Dinas Pertanian dan petani dalam hal inovasi teknologi budidaya bawang merah asal TSS ini. Ka. BPTP Sumut optimis karena Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan teknologi budidaya produksi lipat ganda (proliga) bawang merah yang memiliki beberapa komponen teknologi, antara lain penggunaan benih asal TSS, jarak tanam rapat, dosis pemupukan dan teknik pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit terpadu. Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Sergai yang diwakili oleh Kabid Tanaman Hortikultultura Bapak Fathorasi, SP memberikan apresiasi kepada poktan Hortikultura Mandiri karena bersedia mengadopsi inovasi teknologi penanaman bawang merah dari biji.

"Respon petani terhadap bawang merah TSS cukup baik dengan harapan mampu meningkatkan produksi dan memperbaiki penghasilan petani", ujarnya.
Beliau siap mendukung pengembangan budidaya bawang merah asal benih TSS di Kab. Serdang Bedagai.