JM Hot News - шаблон joomla Окна

Sumatera Utara sebagai provinsi penghasil beras ke-6 di Indonesia dengan produktivitas rata-rata 5,29 t/ha menghadapi

berbagai tantangan dalam mempertahankan swasembada beras, terlebih lagi produksi padi lahan dataran tinggi masih rendah dibanding produksi padi di lahan dataran rendah.

Hal ini disebabkan di lahan sawah dataran tinggi umumnya masih menggunakan varietas lokal, pemupukan dan pengendalian OPT yang tidak tepat guna, serta teknologi budidaya lainnya yang masih bersifat konvensional.

Hal ini dibuktikan, saat ini produktivitas padi di Kabupaten Humbang Hasundutan 4.9 t/ha lebih rendah 6.5% dari produktivitas Sumatera Utara (5.3 t/ha) dalam BPS, (2019). Sehingga perlu dibuat demfarm dalam merakit paket teknologi padi sawah dataran tinggi di Sumatera Utara dalam upaya peningkatan kapasitas petani, produksi, dan daya saing.

Untuk mengatasi hal tersebut Kementerian Pertanian melalui unit kerjanya BPTP Sumatera Utara melakukan kegiatan Pengkajian Padi Dataran Tinggi di Sumatera Utara dengan penggunaan varietas unggul, paket teknologi padi sawah dataran tinggi yang diintroduksikan bersumber dari teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) seperti pemupukan, manajemen air, populasi, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Pada Rabu (6 Januari 2020) sampai Jumat (8 Januari 2020) Tim kegiatan Pengkajian Padi dataran tinggi di Sumatera Utara melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian, dan survei terhadap petani calon lokasi pengkajian serta survei preferensi konsumen terhadap beras lokal di kabupaten Humbang Hasundutan.

Koordinasi dan konsultasi dengan Dinas Pertanian kabupaten Humbang Hasundutan yang disambut oleh Kadis Pertanian Ir. Junter Marbun, MM dan Kabid Tanaman Pangan Yonepta Habeahan, SP, MM bertujuan untuk mendapatkan rekomendasi kecamatan dataran tinggi yang sesuai dengan kriteria kegiatan yaitu pada ketinggian 800-1000 mdpl.

Hasil dari koordinasi ini diperoleh kecamatan yang sesuai dengan kriteria tersebut antara lain kecamatan Baktiraja, Parlilitan, Pakat, Pollung, dan Dolok Sanggul. Berdasarkan informasi ini, tim kegiatan melakukan survei untuk mengetahui pengetahuan petani tentang teknologi Badan Litbang, sekaligus menginventarisasi permasalahan pertanian padi dataran tinggi.

Hasil survei pada lima kecamatan disimpulkan bahwa pertanian padi dimasing-masing kecamatan menggunakan pestisida dalam jumlah rendah, aplikasi pupuk tidak tepat waktu dan jenis, serta penggunaan varietas unggul yang bersertifikat masih rendah. Hasil ini sebagai dasar dalam penetapan paket teknologi untuk menjawab permasalahan petani padi Kabupaten Humbang Hasundutan.

Kegiatan dilanjutkan dengan survei preferensi konsumsi terhadap beras lokal. Secara garis besar masyarakat setempat menyukai varietas lokal. Hal ini disebabkan varietas lokal rendah pestisida, rendah kadar gula, beras lebih mengembang, dan rasanya enak.

Setelah survei, tim melaporkan hasil kegiatan selama 3 hari ke Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan yang disambut langsung oleh Kasie Perbenihan Sanita Hutabarat, SP. Tim BPTP menyampaikan hasil survei, rencana demfarm, pelatihan, dukungan dinas dan pemerintah daerah, serta ucapan terimakasih atas bantuan penyuluh selama survei.

_"Perencanaan yang matang untuk hasil yang maksimal"_