JM Hot News - шаблон joomla Окна

Penyakit Hog Cholera pada babi akhir – akhir ini menjadi perbincangan publik karena menyerang peternak babi di Sumatera Utara dalam skala yang luas. Setidaknya terdapat 11 kabupaten yang terdampak yakni yakni di Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Samosir. Bahkan bangkai – bangkai babi terlihat dibuang di sungai dan membusuk sehingga mencemari air. Sebenarnya penyakit Hog Cholera dapat diantisipasi dan dikendalikan jika petani ternak memiliki pengetahuan yang cukup tentang penanggulangannya.

Penyebab Hog Cholera Babi

Hog Cholera (HC) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seperti virus lainnya, virus HC membutuhkan inang untuk melakukan perkembangbiakan. Virus HC menyerang inang yang cocok dengan genom (RNA) yang dimilikinya, yakni babi. Itulah sebabnya Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) Alwi Mujahid menyatakan virus HC hanya menular dari babi ke babi. Tidak ada kasus virus kolera babi tersebut menular ke ternak lain ataupun manusia.

Penularan HC biasanya melalui rute oronasal atau dengan perantara udara. Babi yang terinfeksi virus HC dapat menyebabkan penularan langsung ataupun tidak langsung. Penularan langsung merupakan penularan yang paling sering terjadi, yakni virus HC yang sudah bereplika ditubuh inangnya keluar melalui saluran pernapasan, atau kelenjar lain yang dapat kontak langsung babi yang belum terserang virus HC. Penulran langsung ini terjadi karena adanya infiltrasi babi yang terkena penyakit ke dalam peternakan babi yang belum terkena virus HC.

Penularan tidak langsung juga bisa terjadi karena virus HC dapat bertahan dalam waktu yang lama di dalam daging babi. Terutama daging babi yang dibekukan untuk menjangkau konsumen di luar kota atau negara. Virus HC akan aktiv ketika babi yang belum terserang memakan sisa sisa daging babi yang belum dimasak sempurna. Penularan langsung maupun tidak langsung biasa disebut sebagai penularan horizontal.

Penularan vertikal juga terjadi ketika induk babi terinfeksi virus HC, maka babi yang di dalam kandungannya juga berpeluang besar terkena virus HC. Virus HC mampu menembus barier plasenta pada semua umur kehamilan.

Selain penularan melalui tubuh ternak, virus HC babi juga menyebar melalui peralatan, lingkungan, kandang, bahan dan sisa sisa pakan. Virus tersebut dapat bertahan dalam waktu yang lama sebelum masuk kedalam tubuh ternak babi sebagai inang. Hal ini menyebabkan pengendalian virus HC babi tidak hanya sebatas pada ternak, melainkan juga terhadap lingkungan, terutama kandang.

Gejala Klinis Hog Cholera Babi

Mengingat mudahnya virus HC ini berpindah inang, maka tidak heran jika virus HC mudah mewabah di suatu wilayah kawasan ternak babi. Masa inkubasi virus HC antara 2 – 6 hari. Masa inkubasi merupakan masa yang diperlukan virus untuk menduplikasi dirinya di dalam inang. Masa inkubasi virus HC lebih pendek dibandingkan penampakan penyakit HC secara visual. Sehingga peternak terkadang terlambat mengidentifikasi keberadaan virus HC.

Gejala klinis virus HC dapat dibedakan menjadi HC akut, HC sub akut dan kronis. Gejala klinis diawali dengan lesu, malas bergerak dan demam tinggi. Gangguan pencernaan atau diare, dan gangguan lokomotor sehingga babi berjalan sempoyongan, dan adanya kemerahan yang diikuti keunguan pada kulit terutama pada daun telinga, abdomen, dan kaki bagian medial. Tingkat kematian pada HC akut sering terjadi dan biasanya terjadi antara 10 – 20 hari setelah infeksi. HC sub akut hampir menyerupai HC akut hanya saja prosesnya berjalan secara lambat. Sedangkan HC kronis dapat menyerang babi lebih dari 30 hari setelah infeksi.

Upaya pengobatan dan pencegahan HC Babi

Karena HC babi disebabkan oleh virus, maka pengobatan yang tepat adalah kekebalan imunitas yang dilakukan dengan vaksin sebagai upaya pencegahan. Vaksin merupakan virus yang dilemahkan yang dimasukkan kedalam tubuh ternak agar ternak membentuk antibodi khusus terhadap virus tersebut. Jika suatu saat virus tersebut menyerang kembali tubuh ternak, maka tubuh sudah  mengenali dan menggunakan antibodi untuk melawan virus. Vaksin strain Chinese (C) adalah jenis vaksin yang paling banyak digunakan untuk vaksinasi.

Virus HC tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik, karena antibiotik mengarah kepada penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pemberian antibiotik pada serangan virus hanya mengobati infeksi bakteri sekunder yang menyertai penyakit HC babi. Sehingga apabila ternak terlihat sehat setelah diberikan antibiotik, virus HC masih tetap aktiv didalam tubuh.

Selain memberi vaksin, upaya pencegahan dapat dilakukan dengan mengisolasi ternak yang terserang HC babi. Seperti kasus serupa di Eropa pada tahun 1973, peraturan pemusnahan semua babi dalam peternakan yang terinfeksi dan desinfeksi kandang dan peralatan. Selain itu, penetapan zona proteksi dalam radius 3 km sekurang – kurangnya 15 hari dan zona surveillance radius 10 km sekurang -kurangnya 30 hari. Upaya ini dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus HC dalam skala yang lebih luas.

Upaya pencegahan lainnya adalah penjagaan kebersihan di sekitar kandang. Pembersihan kandang dengan menggunakan desinfeksi untuk memusnahkan virus di lingkungan terdampak. Limbah dan bahan – bahan terkontaminasi juga perlu dibakar.

Permasalahan lain muncul saat peternak belum menangani penyakit HC babi dengan baik. Sekitar 5.800 ternak yang mati dari 11 kabupaten di Sumut. Ratusan diantaranya dibuang disungai dan mencemari air sungai. Pembuangan bangkai babi ini menyebabkan konsentrasi bakteri di sungai meningkat. Kandungan bakteri yang tinggi menyebabkan penyakit pencernaan seperti diare, disentri, bahkan sampai kolera.

Penyakit HC babi sendiri tidak menular kepada manusia, namun pembuangan bangkai babi yang mencemari sungai akan menyebabkan penyakit lain yang serius akibat sanitasi yang buruk terutama air bersih. Penanganan yang baik terhadap ternak babi yang mati akibat virus HC adalah mengubur atau membakarnya. Pengetahuan yang benar perlu dipahami oleh peternak untuk memutus rantai penyebaran virus HC tanpa menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru bagi masyarakat.

Peran BPTP Balitbangtan Sumut

BPTP Balitbangtan Sumut selaku UPT Kementan yang memiliki tupoksi melaksanakan pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi, telah melakukan kajian pengembangan Bioindustri yang berupa sistem integrasi antara babi, padi dan ubi jalar sejak tahun 2015 di Desa Hilizoi, Kecamatan Gido pada Kelompak Tani Mandiri, Kabupaten Nias.

Sistem pertanian bioindustri pada prinsipnya mengelola dan/atau memanfaatkan secara optimal seluruh sumberdaya hayati termasuk biomasa dan/atau limbah organik pertanian, bagi kesejahteraan masyarakat dalam suatu ekosistem secara harmonis. Sistem pertanian bioindustri menerapkan konsep zero waste sehingga termasuk sebagai sistem pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, pertanian berkelanjutan harus mampu mencapai dua hal manfaat, yaitu pemenuhan kebutuhan produk primer dan ketersediaan jasa ekosistem.

Gambar 1. Kegiatan Pertanian Bioindustri Kab Nias

Konsep pertanian bioindustri juga biasa dikenal dengan zero waste, yakni penerapan limbah organik untuk mencukupi kebutuhan komoditas lainnya dalam sebuah integrasi. Seperti contohnya, petani padi dan ubi jalar menggunakan pupuk kandang babi sebagai pupuk organik. Terdapat setidaknya dua keuntungan dari penerapan sistem ini, yakni sanitasi ternak yang terjamin dan pemenuhan kebutuhan pupuk bagi tanaman yang secara ekonomis akan menurunkan biaya usahatani.

Keuntungan yang dirasakan oleh masyarakat setempat adalah peninigkatan hasil produksi padi, introduksi varietas unggul seperti Inpari 3, Inpari 4, Inpari 30, Inpari 31, Inpari 32, Inpari 33, Inpari 39, Inpari 40, Inpari 41 Inpari 42 (produk BB Padi) dan Mekongga (UPBS Pasar Miring), Introduksi varietas ubi jalar dari Balitkabi Malang yang dual purpose, yaitu menghasilkan daun/ batang dan sekaligus umbi, mencakup Papua Solossa, Bestak, AC Kuning, Kidal, Manohara, dan pemenuhan konsumsi babi untuk keperluan adat, pemenuhan gizi sebagai sumber protein hewani, sumber bahan biogas, pupuk organik dan sumber pendapatan, dan produksi pupuk kompos sebagai tambahan nilai ekonomis pertanian bioindustri. Sejauh ini belum ada kasus penularan penyakit HC di lokasi bioindustri dan Kepulauan Nias, namun tetap harus diwaspadai dan diantisipasi, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Berdasarkan Roadmap pengendalian dan penanggulangan Hog Cholera yang dikeluarkan oleh Direktorat Kesehatan Hewan, perlu adanya pelaksanaan tindakan biosekuriti untuk menangani isu virus HC babi. Biosekuriti merupakan tindakan yang diperlukan untuk melindungi populasi terhadap pengenalan dan penyebaran pathogen. Upaya biosekuriti diantaranya adalah: melakukan pengendalian lalu lintas dipeternakan, melakukan karantina ternak baru dan isolasi babi sakit, pengendalian vektor dan hama, dan pembersihan atau disinfeksi.

 

Referensi:

Arbert, J. Podung. S. Adiani. 2018. Upaya Peningkatana Pengetahuan Peternak Babi Terhadap Penyakit Hog Cholera Di Kelurahan Kalasey Satu Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal LPPM. Vol 5(2): 19 – 25.

Direktorat Kesehatan Hewan. 2019. Road Map Pengendalian dan penanggulangan Hog Cholera. 2019. Jakarta: Direktorat Kesehatan Hewan.

____________ . 2019. Pedoman Pengendalian dan Penanggulangan Classical Swine Fever (Hog Cholera). Jakarta: Direktorat Kesehatan Hewan.

CNN Indonesia. Bangkai Babi Terpapar Kolera Berserakan di Sumut. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191112192643-22-447758/foto-bangkai-babi-terpapar-kolera-berserakan-di-sumut

Inews.id. Jumlah Babi Mati di Sumut akibat Hog Cholera Sebanyak 5.800 Ekor. https://www.inews.id/daerah/sumut/jumlah-babi-mati-di-sumut-akibat-hog-cholera-sebanyak-5800-ekor

Kompas. 2019. Kasus Babi Mati di Sumut karena Virus: Ada Sisa Makanan dari Kapal dan Pesawat untuk Pakan. https://medan.kompas.com/read/2019/11/10/11120001/kasus-babi-mati-di-sumut-karena-virus--ada-sisa-makanan-dari-kapal-dan?page=all.

Tarigan, Simson. B. Sjamsul. A. Sarosa. 1997. Hog Cholera Pada Babi. Wartazoa vol 2 (1): 23- 32